Objek Kajian (studi) Islam adalah semua hal yang membicarakan tentang islam, mulai dari tingkat wahyu berupa nash, hasil pemikiran para ulama, sampai pada tingkat praktik yang dilakukan masyarakat. Dengan adanya perbedaan level kajian menentukan juga pendekatan dan metode yang digunakan.
Model Berfikir
Dapat disebut ada tiga model berfikir yang berkembang dalam khazanah pemikiran umat manusia, dan sekaligus menjadi ukuran benar atau tidaknya sesuatu, yakni:
ð Model berfikir RASIONAL
ð Model berfikir EMPERIKAL
ð Model berfikir INTUITIF (irrasional)
· Model rasional berpendapat bahwa untuk menemukan kebenaran dapat dilakukan dengan menggunakan akal secara logis. Dengan kata lain, untuk menentukan benar atau tidaknya sesuatu diukur dengan rasionalitas akal. Objek kajiannya adalah hal-hal yang bersifat abstrak-logis, paradigmanyaadalah logi. Adapun metodenya adalah ukuran rasionalitas, yakni logis atau tidaknya.
· Model empirikal berpendirian bahwa sumber pengetahuan adalah pengamatan dan pengalaman inderawi manusia. Maka indera manusialah yang menjadi ukuran benar atau tidaknya sesuatu. Objek kajiannya berupa fakta empirik, sesatu yang dapat diamati, diukur dan dapat dibuktikan ulang. Metodenya adalah metode ilmiyah, dengan ukuran empiris, yakni sesuai atau tidaknya dengan fakta.
· Model intuitif (irrasional) beranggapan bahwa kebenaran dapat digapai lewat pertimbangan-pertimbangan emosional (mukasyafah). Objek kajiannya adalah hal-hal yang abstrak, dan mempunyai paradigma mistik atau ghaib. Adapun metodenya adalah latihan terus menerus atau mengasah secara berulang-ulang. Adapun yang menjadi ukuran adalah kepuasan hati. Karena itu, perbadaan antara epistemologi rasional dan irrasional terletak pada paradigma, metode dan ukuran.
Kalau ketiga model tersebut dipadankan dengan model epistemologi yang populer dalam studi islam dikelompokkan oleh al-Jabiri menjadi
ð BURHAANIY (demonstratif)
ð BAYAANIY (linguistik/tekstual)
ð ‘IRFAANIY (intuitif/gnostik)
· Epistemologi Burhani adalah, bahwa untuk mengkur benar atau tidaknya sesuatu adalah dengan berdasarkan komponen kemampuan alamiyah manusia berupa pengalaman dan akal tanpa dasar teks wahyu suci, maka dari sini muncul peripatik.
· Bayani adalah pendekatan dengan car menganalisa teks. Maka objeknya adalah gramatika dan sastra (nahwu dan balaghoh), hukum dan teori hukum(fikih dan ushul fikih), teologi dan ilmu-ilmu al-Quran dan hadits.
· ‘Irfani adalah pendekatan yang bersumber pada intuisi (kasf/ilham). Dari sini muncul illuminasi. Adapun prosedur penelitiannya adalah, bahwa berdasarkan leteratur tasawuf, secara garis besar kita dapat menunjukkan langkah-langkah penelitian ‘irfani sebagai berikut:
a. Takhliyah : pada tahap ini “peneliti” mengkosongkan (tajarrud) perhatiannyadari makhluk dan memusatkan perhatianya kepada sang kholik semata.
b. Tahliyah : pada tahap ini “peneliti” memperbanyak amal sholeh dan melazimkan hubungan dengan sang kholik lewat ritus-ritus tertentu.
c. Tajliyah : pada tahap ini “penulis/peneliti” menemukan jawaban batiniyah terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Sebagaimana paradigma lain, paradigma ‘ifaniyah juga mengenal teknik-teknik yang khusus. Ada tiga teknik penelitian ‘irfaniyah:
1. Riyadhoh : rangkaian latihan ritus, dengan penahapan dan prosedur tertentu.
2. Thoriqoh : di sini diartikan sebagai kehidupan jama’ah yang mengikuti aliran tasawuf yang sama.
3. Ijazah : dalam penelitian ‘irfaniyah, kehadiran guru (mursyid) sangat penting.mursyid membimbing murid dari tahap satu ke tahap yang lain. Pada tahap tertentu mursyid memberikan wewenang (ijazah) kepada murid.
Penjelasan diatas memang sangat bersifat umum. Akan tetapi yang paling penting dari kesemuanya tersebut ialah, sudah siapkah kita menerima paradigma ini dalam penelitian agama?
Kalau melacak metode studi islam yang sudah umum akan muncul gambaran sebagai berikut:
| Rasionalitas | Filsafat | Aql | Burhani | ------ |
| Tradisionalis | Naql | Syari’at | Bayani | Normatif |
| Mistisis | Tasawuf | Kasf | ‘Irfani | ------ |
Kebenarannya adalah bahwa nash berfungsi hanya sekedar menbantu untuk menemukan kebenaranya, sementara untuk akal, nash bisa diterima kalau logis (dapat diterima akal), dan ‘irfani kontak langsung dengan sang Kholik (Allah) karena sudah terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar